Selasa, 12 Maret 2013

Shine Bright Like A DIAMOND




“Shine Bright Like A Diamond..Shine Bright Like A Diamond”

Penggalan lagu milik Rihana itu terngiang terus di telinga saya belakangan ini. Bukan karena saya sangat menggemari penyanyi yang melejit lewat single Umbrella itu, tapi karena kata diamond yang bertebaran di lagu tersebut.

“Memangnya kenapa dengan diamond” kata teman saya yang kerap mendengar saya menyenandungkan lagu itu dengan gembira (sssttt….gara-gara sering menyenandungkan lagu itu, teman saya menuduh saya nge-fans dengan Fatin Shidqia, finalis X-Factor Indonesia, ajang pencarian bakat yang disponsori Oriflame).


Begini ya kawan, kata diamond bagi saya sangat istimewa. Bukan karena diamond adalah batu mulia dengan kadar kekerasan tertinggi sehingga kerap dipakai sebagai alat untuk memotong batu mulia lainnya, atawa karena harganya yang selangit.


Kata diamond, bagi saya berarti kebahagian. Kenapa begitu, karena diamond yang saya maksud adalah salah satu level di success plan Oriflame yang sedang saya kejar. Terus kenapa musti diamond sih, Tanya teman saya lagi (rupanya dia penasaran). Soalnya dengan menjadi diamond, saya tak hanya akan membahagiakan diri sendiri, keluarga, tetapi juga kawan-kawan saya sejaringan karena dengan menjadi diamond, artinya saya sudah membuka jalan dan menjadi teladan bagi ratusan orang di jaringan saya bahwa yang namanya sukses itu melewati proses agar menjadi nyata. Saya tak akan dianggap “ngecap” belaka. 

Bagaimana tidak, karena dengan menjadi diamond maka saya sudah memiliki minimal enam orang director di jaringan saya. Maka dari itu, ada enam orang yang sudah mendapatkan cash award sebesar Rp 7 juta, kemudian 12 orang senior manager dengan penghasilan Rp 4-5 juta per bulan, puluhan orang manager dengan penghasilan terkecil Rp 650 ribu Rp 3 juta per bulan. Bahkan minimal enam ratusan orang  dengan penghasilan puluhan ribu sampai ratusan ribu. Intinya dengan menjadi diamond, maka mimpi-mimpi downline di jaringan saya, mulai bisa saya angkat tinggi-tinggi. Amanah mereka, mulai bisa saya tunjukkan hasilnya dan akan terus saya bawa lari agar bisa sampai ke tempat yang seharusnya yaitu menjadi diamond seperti saya. 


Tak itu saja, menjadi diamond artinya saya memasuki kebebasan financial karena per tahun saya mendapatkan pendapatan rata-rata Rp 460 juta. Uang sebanyak itu tentu membuat saya bisa leluasa membahagiakan orang tua saya dengan membangun rumah mungil bagi mereka yang selama ini sudah saya cita-citakan. Bahkan, dengan uang itu, saya bisa bernafas lega karena pendidikan dua “cahaya mata” saya, Wildan Syarifudin Sajid (3 tahun) dan Aiesha Akela Ishana (1 tahun 6 bulan) terjamin.

Maklum, sekarang saya masih harus berkejaran dengan deadline lantaran masih bekerja sebagai wartawan local di sebuah surat kabar local di Banten. FYI ya kawan, profesi wartawan berdasarkan penelitian adalah profesi yang gajinya ketiga terendah loh di Indonesia. Padahal, risiko pekerjaannya tinggi, apalagi kalau menulis soal kasus korupsi, atau kriminalitas maka harus siap dibenturkan dengan kekerasan.


Nah sekarang sudah tahu kan, kenapa saya si Manager 12 % ini ngotot menjai diamond pada akhir tahun 2014. Karena di level diamond itulah kebahagiaan keluarga, bahkan downline-downline saya mulai nampak. Level dimana tak hanya saya yang bisa “shine bright like a diamond” tapi juga bintang –bintang terang di jaringan saya, Nisa Sani, Welly Zofie, Sri Kartikawati, Rita Suharti Sudrajat, Sri Kartikawati, Tria Perwahyuni, Vika Anggia Putri dkk, Ade Satiah Rahayu dkk makin bersinar. 

Soo girls, let’s marching this March and Shine Bright Like A Diamond. Semangat Pagi……d’BCN Dahsyat, Oriflame Yes, Indonesia Number #1.
(Pandeglang, 12 Maret 2013, Kala Hati Makin Yakin Bahwa Oriflame Pilihanku).


Senin, 04 Maret 2013

Sigaraning Nyowo


Terpisah tapi bersatu

Terlepas tapi menempel

Saling melekat erat tanpa tahu apa alasannya

Sejiwa tapi berbeda tubuh

Tersiksa.....tersakiti...tersenyum bersama



Datang dan sadar di saat yang tak terduga

Berjumpa setelah lama saling merindukan sejak dunia masih kuna

Namun memendam perih karena tahu sama-sama sudah melewatkan

Merindu dendam lantaran tak bisa bersama hingga berakhir kisahnya



Merasa cukup dengan saling memandang dari kejauhan

Merasa harus berbahagia hanya dengan melihat ke dalam hati, ke dalam jiwa masing-masing

Menekunkan diri untuk menekurkan kepala dalam ribuan sujud

Memohon kepada Sang Maha Berkehendak agar memastikan kau disana baik-baik saja

Memastikan kau selalu terjaga...dalam damai......dalam cinta

Dalam ketenangan, pencerahan, dan kemudahan

Dalam satu tautan hati kita wahai kau sigaraning nyowo, wahai kau belahan jiwa



Terbanglah.......tapi,janganlah lupa, aku disini menunggumu

Dengan keyakinan yang kukuh

Dengan pengetahuan bahwa kau rasa apa yang kurasa

Dengan ingatan pada sebuah janji "aku akan selalu berada dekatmu, mengikutimu"



Karena itu ku tau kau selalu bersamaku, menjagaku

Dalam hati, dalam diri

Karena ku tau, kau tau

Kita adalah SATU



Pandeglang, Jumat 15 Februari 2013, saat angin sepoi-sepoi dan burung bernyanyi menyambut pagi

Sabtu, 24 November 2012

Succes Seminar Oriflame 2012


Ini dia panggung acara Succes Seminar, megah dan meriah
Ini dia antusiasme pasukan d'BC Networks yang ikut sukses seminar
Kata-kata motivasi sebelum acara mulai, damn bin jleb banget kan?
Cheersleader, contoh terbaik kerjasama team


Nah ini dia Co Founder d'BC Network Nadia Meutia saat beraksi jadi MC
Ini dia Cintya Fenika



"Impian saya terlalu besar dibandingkan masalah yang sedang saya hadapi. Itu yang membuat saya fokus dan tak mau berhenti karena saya tahu bisnis inilah jawaban dari mimpi-mimpi saya"

                                                                                                            Cintya Fenika Lioe
                                                                                  Number 1 Leader Oriflame Indonesia

Kata-kata Cintya itu lembut saja diucapkan. Tapi di telinga saya benar-benar seperti petir di siang bolong. Sambil menahan air mata yang jatuh lantaran merasa tersindir, saya tetap membidikkan lensa kamera saya. Mendengar Cintya, yang mengaku memulai bisnis ini dari nol saat datang ke Jakarta demi membahagiakan ibundanya makin menyayat perasaan saya. Seketika langsung terbayang wajah anak saya, ibu saya yang rambutnya sudah memutih, dan waktu bersama anak yang hilang lantaran saya terpaksa harus bekerja di luar rumah dan menitipkan dua anak kepada orangtua saya.
Kata demi kata Cintya saat memaparkan keberhasilannya di bisnis ini benar-benar saya resapi. Ia mengatakan, selain impian, modal utamanya adalah keyakinan atau believe. 



Bonus pertama saya hanya Rp 6500. Tapi karena saya luar biasa yakin bahwa bisnis ini bisa menjadi kendaraan saya maka saya maju terus. Keyakinan itulah yang bisa membawa kita ke impian kita karena keyakinan menumbuhkan potensi sehingga saat memnceritakan dan mengajak orang lain mengikuti bisnis ini kita terlihat bergairah, menggelora," ucapnya. Kata-kata Cintya mengingatkan saya akan training khas jaringan saya d'BC Network yaitu training binar-binar.
Ia menegaskan, percuma kita menjalani bisnis ini dengan penuh kerja keras bila kita tak yakin dengan kedahsyatan bisnis ini.Maka hasil yang didapatkan tak akan sebaik orang yang yakin.
"Kerauan itu menghambat potensi dan aksi kita sehingga pada akhirnya menghalangi kita menggapai impian kita," tandasnya.

Maka, seketika saya bolak-balik mengusap air mata saya menggunakan kerudung merah maroon seragam d'BC Networks. Kata-kata Cintya membuat saya benar-benar merasa tersinggung, tersudutkan, tapi FAHAM dan tercerahkan.

Inilah jawaban kenapa jaringan saya membesar tapi level saya kerap stuck.Inilah jawabannya teman-teman, karena saya kurang YAKIN dengan bisnis ini sehingga donlen-donlen di bawah saya tak bisa bersinar terang. Mengingat 60 lebih donlen saya, kembali air mata mengucur. Saya merasa bersalah pada mereka karena tak bisa memberikan the best part of me sehingga beberapa diantara mereka menyerah atau ikut-ikutan kurang yakin dengan bisnis ini.
Beruntung episode drama dalam diri saya tak disaksikan orang banyak karena saya berdiri di atas panggung kecil tempat seorang kameramen EO yang disewa Oriflame beraksi. Lokasinya di tengah-tengah ruangan dan agak gelap sehingga saya bisa menyembunyikan air mata saya :p


Diamond laki-laki pertama dari d'BC Networks Kris Hartanto
Diamondku Mbak Doris Aminah Nasution












Hal senada tentang keyakinan dalam bisnis ini juga dipaparkan dua diamond dari jaringan saya (d'BC Networks) yaitu Kris Hartanto, dan Doris Aminah Nasution. Kata mbak Doris, Oriflame adalah bisnis besar dan saya yakin dengan itu. Oleh karena itu, mbak Doris menyatakan, dirinya konsisten merekrut karena merekrut adalah nyawa bisnis ini.
"Caranya merekrut macam-macam. Diantara selalu memperbaharui daftar nama orang-orang yang akan saya ajak untuk bergabung di bisnis ini, kemudian rajin menulis di blog dan catatan di sosial media, serta mengajak orang-orang ke Oriflame Opportunity Meeting (OOM)," ujarnya memberikan tips.
Mas Kris Hartanto, pria muda lajang dari Surabaya dengen level diamond ini juga mengatakan hal yang sama. Kata dia, kunci kebersihan dirinya serta jaringannya di Oriflame ada 3 yaitu harapan, rasa percaya, dan getting started. Harapan menurut Kris menumbuhkan motivasi alias bahan bakar untuk menekuni bisnis ini, kemudian rasa percaya bila bisnis ini bisa membantu kita mewujudkan impian, dan kemudian getting started alias cara memulai. Setiap member baru yang mendapatkan ilmu tentang getting started tentu akan lebih bersemangat dibandingkan member baru yang tak tahu lantaran getting started memberikan gambaran bahwa bisnis ini bisnis yang bonafid.



Mbak Tia, Mbak Din, Mbak Nad
Meutia Rizky



Co Founder d'BC Network Nadia Meutia
Tak hanya di dalam acara Succes Seminar 2012, kata-kata lainnya yang "menampar" dan memberikan saya banyak pelajaran adalah ketika berjumpa dengan leader asal Makasar bernama ibu Arma di bus yang mengangkut peserta Succes Seminar menuju Segarra Resto untuk makan malam. Dengan level qualification Gold Director, ibu Arma yang berbeda jaringan dengan saya itu menceritakan pengalamannya jatuh bangun di bisnis ini. Mengaku memulai bisnis ini sejak 2006 silam, Arma bercerita bila dia tak pernah diperhatikan uplinennya. Tak heran, ia mengaku tak mengerti cara smart menjalankan bisnis ini.Walhasil, Arma yang sempat duduk di level Director pada tahun 2009 kembali jatuh ke level Senior Manager (SM) lantaran jaringannya ambruk.

"Itu karena saya tak smart menjalankan bisnis ini. Saya terlalu tergantung pada uplen sehingga saat uplen tak urusi saya maka saya tak bisa apa-apa. Dari kejatuhan itu saya marah, saya memutuskan untuk bangkit dan memulai lagi dari awal," ujar Arma yang dalam Succes Seminar mengajak 6 orang leadernya tersebut.
 
Keputusannya untuk bangkit bermula dari kesadarannya bahwa bisnis ini adalah bisnis yang bersifat mandiri alias tak ditentukan oleh siapa leadermu, siapa uplennya tetapi oleh dirimu sendiri. 

"Saya akhirnya bangkit lagi, saya ikuti panduan di SARPIO. Setiap bulan saya menyebarkan 200 lembar undangan OOM dan gencar melakukan training. Oh ya manager-manager di bawah saya setiap OOM minimal harus membawa 30 orang baru kalau tidak saya hukum. Karena saya berasumsi dari 30 orang itu yang deal untuk mengikuti bisnis ini hanya 6 orang. Dari 6 orang itu yang mau menjalankan bisnisnya hanya 1 orang. Alhamdulillah saya akhirnya bisa kembalikan lagi jaringan saya yang sempat ambruk tanpa memikirkan dan galau-galau lagi dengan kecuekan uplen saya. Karena ini bisnis saya maka harus saya perjuangkan. Mendapatkan cash award Rp 7 juta plus perbulan hasil penjualan jaringan hingga 11 juta seperti mimpi bagi saya. Saya bisa membeli mobil loh, dan manager saya bisa membeli motor. Kedepan saya ingin beli ruko " katanya sambil tertawa ngakak.

Mendengar itu saya manggut-manggut walaupun dalam hati kebat-kebit karena saya tahu saya bekerja kurang smart.  

Belum lagi kebat-kebit saya hilang, di acara makan malam, mbak Doris Aminah Nasution diamond saya menyapa dengan ramah dan lagi-lagi pertanyaannya, mbak Dewi kapan naik level lagi...Bali menanti loh ucapnya sambil tersenyum manis.


Barisan Diamondnya d'BC Networks, mantep ya berentetan setahun ini
Ayuk Eka Satriana, Bubu Sharah, dan Teh Dian Endryana

Sharah Shaleh Sugarda my granny @ Triple S   

Mbak Din dan Bubu Sharah with CA Rp 168 juta

Nad & Din With CA Rp 210 juta...slrupssss

Walhasil, sepanjang malam itu otak saya berputar terus hingga saya kurang memerhatikan beberapa hal. Saya berpikir keras inovasi apa yang akan saya buat untuk menambah jumlah team saya. Apalagi, dalam acara itu, manajemen Oriflame meminta seluruh member yang malam itu hadir untuk menuliskan impian di balon yang mereka bagikan. Balon-balon itu kemudian diterbangkan agar impian setiap member sampai ke langit. Maka saya kembali diingatkan akan target saya lantaran di balon warna putih milik saya saya tuliskan kata yang singkat saja yaitu "Diamond @ 2014 alias Diamond pada 2014. Saya tuliskan itu lantaran dengan level itu, saya bisa memenuhi sejumlah impian saya yaitu membelikan rumah untuk orangtua saya berikut sebuah mobil yang bisa membawa mereka ke rumah saudara-saudara.
Memandangi balon-balon yang terbang, air mata saya tumpah. Namun di bus saat pulang menuju hotel, keesokan harinya saat Succes Seminar, hingga pada perjalanan pulang di bajaj, kemudian metromini, dan bus AKAP hati saya berjanji saya tak akan berhenti, saya akan merekrut, dan saya pasti bisa seperti mereka yang berdiri di panggung Succes Seminar 2014.

Go Diamond 2014 Chandra Dewi !!! 


Seluruh pengisi acara di akhir sukses seminar

Nahhh ini penampilan Pasha Ungu yang menutup Succes Seminar dengan manis


Sabtu, 12 Mei 2012

Yuk Berkebun

    Setelah hampir 5 tahun menikah, saya dan suami akhirnya bisa menempati rumah sendiri. Walaupun mungil dan masih kredit (xixixixixi) tapi kami cinta sekali dengan rumah mungil kami. Tapi layaknya pasangan muda, rumah kami tak terletak di perkampungan dengan halaman luas nan lega. Rumah kami berada di kompleks perumahaan dengan total luas tanah hanya 94 m2 saja. Walhasil, halaman depan kami (yang tersisa tak ditutup semen) hanya seluas 2x2 meter saja. Terus sisa tanah seupil kayak gitu mau diapain ya, pikir saya dan suami. Mencoba mencari inspirasi, kami berdua coba mengintip halaman rumah tetangga yang kebanyakan di cor semen semua. Kalau ada yang tak di cor halaman mereka dilengkapi dengan bunga yang serba minimalis (maksudnya pot bunganya hanya satu dua). Melihat itu kami sepakat tak mau meniru mereka. Bukan dengan maksud sok-sok-an, tapi kami berdua ingin lahan kami yang kecil bermanfaat. Tak sekedar jadi hiasan tapi produktif juga.

                                                                 
    Soo...menimbang berbagai hal, kami akhirnya memutuskan berkebun sayuran dan tanaman obat. Hahay......maklum orangtua kami berdua pegawai negeri, jadi sejak kecil kami udah familiar dengan tanaman obat keluarga (toga), tambulampot (tanaman buah dalam pot) atau menanam sayuran yang banyak dilakukan oleh ibu-ibu PKK. Tapi poinnya sih bukan itu, faktor utama kami membuat kebun sayuran adalah karena kompleks perumahan kami jarang didatangi tukang sayur yang representatif  cekikikikikikikk...maksudnya tukang sayur yang kerap datang ke kompleks kami itu hanya membawa sayuran seadanya. Padahal kami sekeluarga adalah pemakan sayuran (mentah or matang) sejati. Jadi we can't live without vegetables.

                                                                              
    Keputusan bikin kebun sayur udah, terus sayuran apa yang mau ditanam?...tweeng iya ya, secara kita berdua bukan orang yang rajin-rajin banget, khawatirnya malah bukan hidup sayurannya malah mati karena nggak keurus. Tapi bapak saya memberi ide, kenapa nggak menanam sayuran yang saya suka. Jadi sodarah-sodarah akhirnya kami memutuskan menanam bayam tahun (bukan bayam cabut), kangkung, tomat sambal, cabai dan kol gunung (daunnya lebih hijau dan teksturnya lebih liat drpda kol yang biasa kita makan). Okeh deh.....tapi bibitnya beli dimana ya xixixixixixi lagi-lagi kata bapak bisa beli di toko bibit dan alat pertanian, tapi lebih hemat kalau bibit kangkung diambil langsung dari kangkung yang biasa kita beli. Syaratnya kangkung yang dibeli mesti yang kangkung darat alias ada akarnya. Maka setelah membeli kangkung darat di pasar, saya memotong batang kangkung itu hingga kira-kira 10 centimeter  di atas akar. Setelah itu langsung ditanaman di atas tanah yang sebelumnya udah dicangkul dan dibentuk jadi galengan (digemburkan dan dibikin agak tinggi persis kaya gundukan gitu). Habis itu disiram deh setiap pagi dan malam. Urusan pupuk sih kami nggak pakai soalnya nggak sempat beli pupuknya di pasar. Cuma kalau habis cuci daging ayam, sapi, kerbau, atau ikan, air cuciannya kami siramkan ke sayuran. Atau ada tamu yang teh manisnya nggak habis setelah teh dingin kami siramkan juga plus dengan ampas tehnya.  Oh ya, klo untuk bayam tahun kami dapat bibitnya soalnya di rumah bapak ada tanaman itu. Jadi si bijinya yang mirip scrub itu tinggal ditaburkan terus ntar tumbuh. Pas udah gedean, kami pisah-pisahkan. Sedangkan kol gunung kami dapat bibitnya dari mantan tetangga yang katanya dapat dari anaknya yang tinggal di gunung Karang.  Selain sayuran kami juga menanam tanaman obat yaitu mahkota dewa, jahe, dringgo bengle alias panglay dalam bahasa Sunda, and belimbing wuluh atau belimbing sayur.

                                                              
    Alhamdulillah hasilnya di luar ekspektasi kami. Lumayan banget. Dalam seminggu kami bisa dua kali panen sayuran. Lumayan banget kan, untuk keperluan sayuran keluarga kecil kami sih cukup banget. Jadi......(ini bagian yang paling saya suka) kami bisa menghemat pengeluaran membeli sayuran...yeayyy. Kangkung bisa dibikin berbagai masakan, mulai dari oseng pakai cabai rawit pedas dan sedikit terasi, cah (pakai bawang putih yang banyak, bakso, sosis, udang, ayam, atau cumi plus telor puyuh), di bobor (pakai santan dan bumbu bawang merah, putih, kemiri, dan ketumbar serta salam), di lodeh, atau bahkan dibikin rujak kangkung. Kalau bayamnya seringkali dibikin keripik bayam soalnya tektur bayam tahun agak liat dibandingkan bayam cabut yang lembut banget. Tomat soo pasti di sambel, sedangkan kol sama dengan kangkung bisa diolah jadi berbagai jenis sayur.


    Jadi daripada ditanami bunga yang sekedar indah dipandang, mending tanam sayuran aja. Selain indah karena ijo royo-royo, bermanfaat juga buat kesehatan karena membiasakan kita dan anak-anak makan sayuran. Kami sudah...kamu kapan mo berkebun....yuk berkebun :D.

Minggu, 22 April 2012

HABIS GELAP TERBITLAH TERANG

            Bila membaca judul diatas, Anda pasti langsung teringat Kartini. Pahlawan perempuan asal Jepara Jawa Tengah. Tapi dalam tulisan ini saya nggak akan bicara soal emansipasi melainkan pengalaman yang saya alami. Yang menurut saya kondisinya persis seperti judul di atas.
            Cerita saya bermula dari niatan kuat saya untuk membahagiakan orangtua, dan keluarga kecil saya. Saya yang sejak 4 bulanan lalu bergabung dengan d’BCN Oriflame sangat “gerah” dengan kondisi saya yang cuma konsultan 9%. Oleh karena itu, mulai deh saya melakukan cara-cara rekrut diluar cara rekrut yang saya lakukan sebelumnya. Salah satunya adalah dengan melakukan perekrutan offline kendati jaringan saya dikenal sebagai jaringan di Oriflame dengan sistem online tercanggih saat ini (termasuk untuk merekrut). Pikiran saya, kalau online jalan offline jalan akan lebih baik kan heuhehehehe.
            Maka mulailah saya membuat alat pendukung untuk melakukan perekrutan offline yaitu dengan mencetak x banner. Kenapa x banner soalnya sebelumnya saya pernah melakukan perekrutan offline hanya dengan berdiri dan menghampiri satu persatu calon prospek dan kemudian membagikan flyer. Ada yang bertanya –tanya, ada pula yang langsung kabur dan menjawab no thanks pas saya baru mau buka mulut memperkenalkan Oriflame. Nggak papa, semua saya terima dengan santai dan tanpa beban, habis sudah kebal ditolak sih (thanks to my uplen yang melatihku untuk menjadi imun terhadap penolakan).

Ini anak kedua saya Aiesha, lagi kagum lihat banner ibunya :p
               
            Begitu x banner jadi, saya dengan semangat 45 mengajak dua anak bayi saya dan suami ke alun-alun. Asumsinya lokasi itulah yang paling banyak dikunjungi orang di Minggu pagi. Sampai di alun-alun, saya masih senyum-senyum tuh apalagi suami sebelum mengajak anak sulung saya main membantu memasang x banner itu. Saya pun bersiap menyuapi anak kedua saya dengan bubur. Selesai menyuapi, mulai deh action. Semenit, dua menit....lima menit....yeay akhirnya ada yang datang, loh tapi kok Cuma senyum doang ya terus cepet-cepet pergi....nggak papa, yang penting ybs udah saya kasih flyer siapa tahu ybs menelfon atau mengisi data di web replika saya.
                                                                         
 Pose sama Wildan dan Aiesha sebelum mrospek                               

            Tak terasa 30 menit berlalu, udah puluhan lembar flyer saya bagikan, dan sejumlah obrolan dibangun. Rata-rata Cuma bilang oke akan saya pertimbangkan. Jujur saya sempat merasa down, gimana pun saya manusia biasa seimun-imunnya teteup kadang timbul rasa kecewa. Pokoknya waktu itu saya tiba-tiba merasa langit agak mendung, semendung hati saya gara-gara belum ada prospek yang nyangkut. Pokoknya pandangan serasa gelap deh.

    Ini saya sama Aiesha lagi bagi-bagi flyer d'BCN :D                          

            But......sebagaimana siklus hidup, walaupun sekarang gelap tentu nggak selamanya gelap toh...bakalan ada terang yang datang. Nah di versi prospek offlineku ini....si terang datang saat saya yang mulai lelah lantaran hari mulai panas dilewati oleh anak remaja putri yang pura-pura gila. Si remaja putri ini meminta tanda tangan orang-orang di sekitar saya. Anehnya dia nggak melakukan hal yang sama pada saya. Maka saya yang merasa dilewat mulai menanyai orang-orang di sekitar saya.
“lagi ngapain sih, anak tadi”, “kayaknya lagi di ospek ya” ujar saya penasaran (hihihihi soal penasaran ini mah naluri kantor pertama ya jeng).
Maka dari pertanyaan saya itu, mulai mengalirlah jawaban-jawaban dari orang-orang di sekitar saya, termasuk dari salah seorang bunda yang sedang makan bersama dua jagoannya.
“Kayaknya ospek teater deh ya anak itu bunda,” kataku.
“Iya bener, soalnya aku juga dulu gitu di Surabaya,” kata Bunda yang sedang makan yang belakangan saya ketahui bernama Bunda Tanti.
            Selepas itu obrolan kami mengalir. Kepada Bunda Tanti mulai aku perkenalkan diri sebagai wartawan, ibu dua anak bayi, sekaligus beauty consultan Oriflamedari jaringan d’BCN. Nggak lupa, kuperkenalkan sistem serta aturan main bisnis MLM Oriflame. Mendengar hal itu Bunda Tanti sangat bersemangat lantaran ia ternyata pengguna produk Oriflame.
“Itu favoritku tender care, ampuh banget buat kaki dan kuku,” katanya.
“Aihhh tender care ya...itu mah everyone favorit bunda,” kataku.
            Dari pertemuan itu, kamipun berjanji untuk bertemu karena Bunda Tanti mau memberikan bukti transfer uang pendaftaran. Yeaayyyyy closing ya...alhamdulillah.

   Wildan dengan semangat bantu manggulin banner bunda, asikkkk :closing ya bun :D
            Dari pengalaman ini, aku mikir walaupun sekarang aku masih konsultan yakin deh bila usahaku konsisten aku bakalan climb up terus. Soo dont let yourself give up ya, coz all you need to be succed in this bisnis is consistance. Mengutip quote dari co founder d’BCN Dini Shanty “Sekarang tinggal tergantung seberapa lama kita bertahan, karena yang bertahan adalah PEMENANG”. Go SM, Go Director, Go Diamond.(wie)

Rabu, 28 Maret 2012

Belajar Dari Asiyah dan Suneti


           
Belajar Dari Asiyah dan Suneti
(Kisah bayi-bayi malang dari Pandeglang)
Siang kemarin Rabu (28/3) sungguh hari kelabu bagi saya dan suami. Bukan karena sudah akhir bulan dan kondisi kantong sedang kempis :p, namun karena kami lagi-lagi “terpaksa” menahan perih di hati, dan sesak di dada melihat kondisi masyarakat yang dipaksa hidup dan kekurangan. Hati ini makin perih lantaran kami berdua merasa tak bisa berbuat apa-apa selain mewartakan peristiwa tersebut. Kami bagaimanapun tetap manusia yang punya rasa yang bisa merasa pilu saat melihat kondisi yang menurut kami tak seharusnya terjadi bila sistem pemerintahan di republik ini berjalan baik, dalam artian semua bagian dari bagian terkecil hingga terbesar menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik.
            Coba kawan semua bayangkan, siang itu suami saya, sambil masih berkeringat menunjukkan foto seorang bayi yang ia rekam di kamera saku digitalnya. Dengan hati-hati, ia mulai dengan menunjukkan wajah si bayi. Serta merta saya yang juga ibu dua anak yang dua-duanya masih bayi (2 tahun, dan 7 bulan) tentu merasa senang karena bayi dalam foto itu memiliki wajah yang manis. Rambutnya lebat dan pipinya lumayan montok. Normal dan masih memiliki aura malaikat lah layaknya bayi-bayi baru lahir lainnya.
            Namun kesenangan saya berubah jadi nestapa saat suami mulai menggeser tombol down di kameranya, saya kaget melihat bayi itu ternyata tak memiliki tangan dan kaki. Makin kaget ketika suami berkata dengan pelan bahwa bayi itu juga tak memiliki anus. Tak heran bila perutnya terlihat menggelembung.
            “Kalau dipegang keras, soalnya sejak lahir pada Selasa (27/3) sekitar pukul 11.00 WIB, bayi itu belum pups soalnya nggak ada anusnya, ” kata suami saya sambil menambahkan bayi lelaki Asiyah lahir dengan berat badan 3 kilogram dan panjang 35 centimeter lantaran tak memiliki kaki.
                                                               

Bayi yang belum diberi nama itu, menurut suami saya lahir sebagai anak ketiga dari pasangan Asiyah (32) dan Pasaoran Silalahi yang tinggal di Kampung Rancaluluk RT 03 RW 02 Desa Perdana Kecamatan Sukaresmi Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten. Keluarga kecil itu hidup di rumah semi permanen dengan atap rumbia. Ukuran rumahnya hanya 4x6 meter dindingnya bilik bambu, dan tanpa kamar mandi. Hanya ada satu kamar, dapur yang menyambung ke ruang tamu (kalau bisa disebut begitu karena di ruangan itu ). Lantai rumahnya hanya tanah sehingga saat hujan suasana lembab langsung tercipta. Tak hanya itu, keluarga itu juga langganan jadi korban banjir karena letaknya tak jauh dari anak sungai Ciliman. Kondisi itu diperparah dengan tidak hadirnya si ayah yang terpaksa harus mengembara ke Riau untuk menjadi buruh kasar di perkebunan sawit walaupun dengan gaji yang tak seberapa. Makanya ibu si bayi, Asiyah harus berjibaku mengurus dua anaknya, sekaligus memberi makanan (seadanya) karena ia hanya seorang buruh tani. Bila beruntung ada yang memberinya pekerjaan, untuk kerja selama 8 jam, ibu tiga anak itu mendapatkan upah paling banyak Rp 15 ribu. Upah kecil itu ia dapat setelah berjam-jam terbenam di lumpur sawah untuk membersihkan rumput di sela-sela padi atau dikenal dengan nyasab. Pekerjaan berat itu, masih berlanjut lantaran ketika pulang, ia harus mengurus dua anaknya yang masing-masing berusia 7 tahun dan 5 tahun.
Kerja berat ini, terus menerus ia lakukan hingga usia kandungannya 9 bulan. Asiyah mengaku tak pernah USG bahkan tak tahu apa yang namanya USG. Ia bahkan jarang memeriksakan kehamilannya lantaran merasa tak ada keluhan selama hamil. Yang pasti, daripada untuk memeriksakan kandungan ke puskesmas Perdana yang jaraknya hanya satu kilo, Asiyah mengaku lebih baik uangnya ia pakai untuk membeli beras yang satu liternya untuk kualitas terburuk sudah mencapai Rp 5.500 per liter. Maklum, setiap masyarakat yang berobat ke Puskesmas dikenai biaya Rp 4 ribu. Bila ditambah USG, biayanya bisa membengkak menjadi Rp 25 ribu. Uang itu, bagi kita mungkin kecil, bahkan bisa habis hanya untuk satu kali makan. Tapi bagi Asiyah, uang itu sangatlah banyak karena bisa menyumpal perut dirinya, dan dua anaknya termasuk si jabang bayi yang ada dalam perutnya selama beberapa hari karena bisa dipakai untuk membeli 4,5 liter beras. Bayi tanpa tangan, kaki, dan anus itupun lahir dengan bantuan dukun bayi atau di daerah kami dikenal dengan paraji, dan seorang bidan desa lantaran setelah sekian lama ditangani paraji, si bayi tak lahir juga.

                                                             

Maka bisa disimpulkan, keluarga itu tak hanya hidup kekurangan, tapi “dipaksa” hidup walaupun dalam kondisi sekarat. Oleh karena itu, bukan hal yang mencengangkan bila si bayi lahir dalam kondisi tak lengkap alias cacat karena selama hamil, Asiyah tak bisa mengonsumsi makanan bergizi layaknya ibu-ibu hamil yang berasal dari kalangan menengah ke atas. Bagi Asiyah, maka adalah sarana menyambung hidup dan memberinya energi agar tubuhnya bisa berfungsi demi mencari sesuap nasi bagi anaknya, bukan kesenangan, apalagi kenikmatan seperti kita.
Kisah bayi tanpa tangan, kaki, dan anus anak Asiyah mencongkel memori saya tentang kisah serupa yang saya liput tahun 2007. Kala itu pertengahan November ketika saya mendapatkan kabar ada bayi asal Kampung Pasir Asem, Desa Katulisan, Kecamatan Cikeusal, Kabupaten Serang Provinsi Banten yang lahir dengan kondisi jantung berada di luar rongga dada. Jantung itu berada di luar lantaran rongga dada si bayi tak terbentuk dengan sempurna. Di tengah guyuran hujan bulan November, saya berbincang dengan ayah si bayi yaitu Surya yang umurnya baru 23 tahun namun raut wajahnya sepuluh tahun lebih tua. Himpitan kesulitan hidup sejak masih kanak-kanak membuat lelaki yang bekerja sebagai buruh serabutan itu memanggil saya dengan sebutan neng. Padahal usia saya kala itu lima tahun lebih tua dari usianya. Ibunda sang bayi yang juga belum diberi nama itu Suneti, terlihat sangat kelelahan. Bukan hanya karena usai melahirkan tetapi juga karena kesedihan. Yah...ibu mana yang tak sedih bila anaknya lahir dalam kondisi seperti itu.
“Kalau bisa dialihkan ke saya sakitnya, saya siap,” tukas perempuan bertubuh kurus itu lirih.
Mendengar ucapan itu, saya tercekat, tenggorokan saya seolah disumpal hingga tak bisa berkata-kata. Badan saya lemas karena ikut merasakan kesedihan Suneti dan Surya walaupun saya saat itu belum menikah. Tak hanya saya, kawan-kawan wartawan lainnya, terutama yang berasal dari Jakarta banyak yang mengalami kondisi serupa dengan saya. Bahkan satu kawan dari tabloid wanita, langsung berlari sambil menangis begitu melihat si bayi. Kawan itu menangis keras-keras lantaran sebulan sebelumnya baru keguguran setelah hamil 7 bulan.Walhasil, hampir semingguan lebih saya mengungjungi pasangan itu hingga akhirnya si bayi dibawa ke Rumah Sakit Harapan Kita. Saat berangkat, Surya berkali-kali menyalami kami dan menyatakan terimakasih lantaran bila tak diliput maka anaknya tak mendapatkan bantuan untuk bisa dioperasi di Jakarta. Namun untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak, setelah dirawat selama 12 hari, si bayi yang belum sempat dioperasi akhirnya meninggal dunia.
Kondisi masyarakat yang menyedihkan inilah yang membuat saya dan suami kerap bersukur dengan kondisi yang kami miliki. Rumah kreditan kami yang mungil, tentulah terasa bagai istana bagi Asiyah sekeluarga. USG yang bisa saya lakukan setiap bulan selama hamil anak pertama maupun kedua tentulah hal yang tak terbayangkan bagi Asiyah atau Suneti. Makanan yang setiap hari bisa terhidang di meja makan kami juga pasti jadi hal langka bagi Asiyah dan Suneti. Mengingat hal-hal itu, saya dan suami sepulang kerja sambil memandangi dua buah hati kami benar-benar merasakan kesyukuran atas apa yang kami miliki. Kendati tak berlebihan, kami selama ini selalu bisa memenuhi kebutuhan anak-anak walaupun harus banting tulang. Saya selain liputan juga menjalankan bisnis mlm Oriflame melalui jaringan dBCN, sedangkan suami selain liputan menjual jamur crispy (yang jualan orang lain yang kami beri gaji). Saya yang kerap mengeluh (dalam hati) lantaran harus merelakan sebagian besar waktu tidur malam saya demi menjalankan bisnis serta menimba ilmu seputar bisnis saya, tersentil sekali saat melihat Asiyah, dan mengingat Suneti yang tetap tegar kendati dihimpit kesulitan hidup yang beratnya berkali-kali lipat daripada yang saya rasakan.  Dua perempuan yang sekolah SD saja tak tamat itu tak pernah mengeluh atau bahkan menghujat dan menyalahkan siapa-siapa dengan kondisi yang mereka alami. Yang mereka tahu hanya bekerja dan berusaha sebisa mereka untuk terus mempertahankan hidup karena hidup sesulit apapun tentulah sangat berharga.(wie)




Sabtu, 10 Maret 2012

Catatan Untuk Nadia dan Ana (Bagian Ke-2)



Menyambung tulisan saya yang pertama, keberuntungan saya sebagai ibu hamil dan seorang istri makin saya rasakan, lantaran dalam pekerjaan saya banyak menemukan Nadia-Nadia lain dalam berbagai versi. Salah satunya membuat saya harus kembali ke masa silam.
Adalah Ana, Nadia versi lain yang pernah saya temui. Ibu yang baru berusia 34 tahun itu, bertemu saya di ruang tunggu dokter kandungan langganan saya. Saat itu saya masih mengandung anak saya yang pertama sekira tahun 2009. Semula saya mengira, Ana adalah pendatang baru seperti saya dalam hal melahirkan. Tapi ternyata perkiraan saya meleset. Di usianya yang baru 34 ia sudah 9 kali melahirkan, dan yang ada di rahimnya saat ini adalah anakknya yang ke-10. Ia mengaku menikah pada usia belasan lantaran ia tak lulus SD. Setelah menikah suaminya tak mau ber-KB hingga ia berkali-kali hamil. Ana mengaku dalam hati ia sebetulnya ingin tak terlalu banyak anak, bukan lantaran sakitnya melahirkan namun karena ia merasa tak bisa mengasuh seluruh anaknnya dengan fokus.
“Anak saya nggak ada yang dekat dengan saya, soalnya belum setahun saya sudah hamil lagi jadi saya belum puas memberikan ia kasih sayang, perhatian saya sudah harus terbagi dengan adik yang baru saya lahirkan,” katanya dengan bahasa Sunda.
Pantas saja Ana terlihat riang saat berada di klinik itu, dengan wajah polosnya ia bertanya pada saya apakah saya setiap bulan memeriksakan kandungan saya ke klinik itu dan melakukan USG. Saat saya jawab ya, Ana terlihat kagum. Masih dengan nada riang ia berkata sebentar lagi ia akan merasakan yang saya rasakan saat periksa ke dokter, karena untuk pertama kalinya, Ana akan merasakan yang namanya di USG gratis pula lantaran ia bisa datang ke klinik itu atas prakarsa bidan desa yang kerap memberikan penyuluhan kepadaibu hamil di desanya. Mendengar jawaban Ana, bibir saya berusaha tersenyum walaupun hati perih. Saking sedihnya saya sampai pamit untuk mengambil air minum agar dada saya tak lagi sesak. Saat saya kembali ke ruang tunggu Ana sudah masuk ke ruang periksa dan saya tak pernah lagi berjumpa dengannya. Dalam obrolan tadi, Ana juga curhat ke saya kalau ia tetap takut saat melahirkan karena sebetulnya ia tak pernah siap dengan kehamilannya. Saat saya masuk ke ruangan periksa, dokter kandungan saya yang sudah saya anggap orangtua, mengatakan kehamilan Ana berisiko lantaran ia menderita darah rendah, dan frekuensi kehamilan yang terlalu sering. Mendengar hal itu saya cepat-cepat berdoa dalam hati semoga Ana melahirkan bayinya dengan selamat.
Kisah Ana dan sebelumnya Nadia,  membuat saya teringat kembali data lama yang tersimpan dalam netbook saya. Data itu adalah data kematian ibu hamil di daerah saya yang saya peroleh dari Dinas Kesehatan. Dalam data itu tertulis angka kematian ibu hamil dan bayi tinggi karena hingga Oktober 2010 tercatat 33 kasus kematian ibu, 98 kasus kematian neonatal (bayi berumur 0-28 hari), kematian bayi (29 hari – 12 bulan) sebanyak 32 kasus. Data-data itu menggambarkan masih belum merdekanya ibu-ibu hamil di daerah kami. Masih ribuan ibu hamil bernasib seperti Nadia yang hamil dan melahirkan dalam kondisi tertekan lantaran harus berpisah dengan anak yang baru ia lahirkan, atau Ana yang hamil lantaran terpaksa. Jangankan bicara tentang bagaimana merangsang pertumbuhan dan intelegensia bayi sejak dalam kandungan dengan cara mendengarkan musik klasik atau ikut yoga sebagaimana dilakukan ibu hamil di kota besar yang berasal dari kalangan berpunya. Ibu hamil dan melahirkan di daerah kami harus merasa cukup dengan kondisi yang pas-pasan. Ada ribuan yang belum pernah merasakan USG, bahkan ada belasan ribu lainnya yang melahirkan hanya dibantu dukun bayi sehingga berisiko mengakibatkan kematiannya atau bayinya.
Saya berharap dengan tulisan ini, setidaknya kita-kita ibu yang memiliki dukungan materi maupun moril yang memadai bahkan berlebih dari keluarga, kerabat, dan teman bisa mendoakan ibu-ibu seperti Ana dan Nadia. Semoga kelak mereka berdua merasakan yang kita rasakan. Aminnn (*)





Catatan Untuk Nadia dan Ana (Bagian Ke-1)

                                                                

**Catatan ini saya buat dari kisah nyata yang saya saksikan, dengan tujuan untuk pembelajaran bagi semua pihak dan terutama keprihatinan bagi bayi mungil tak berdosa yang sebentar lagi akan berpisah dengan ibu kandungnya. Tak ada maksud memojokkan pihak-pihak dalam cerita ini dan tak ada maksud SARA, oleh karena itu beberapa orang namanya sengaja saya samarkan
Catatan Untuk Nadia dan Ana (Bagian Ke-1)
Oleh : Chandra Dewi
“Dari kemalangan orang lain, saya melihat keberuntungan diri sendiri“
Pepatah Buddha yang satu itu langsung terlintas di benak saya begitu saya sampai di rumah Bibi (seorang ibu tetangga saya yang tak perlu saya sebutkan nama aslinya-red) di sebuah kampung yang tak jauh dari pusat pemerintahan Kabupaten Pandeglang, Minggu (13/3).
Saya datang ke rumah itu bersama ibu dan anak saya yang baru berusia setahun dua bulan. Di rumah sederhana lantaran dinding batanya masih dibiarkan terbuka atau bata ekpose itu, saya melihat sesosok ibu muda bernama Nadia yang sedang makan siang dengan lauk seadanya. Tak jauh dari tempatnya makan, tertidur seorang bayi lelaki mungil (kalau tak bisa dibilang kecil dan kurus lantaran beratnya hanya 2,1 kilogram) yang baru dilahirkan Nadia kemarin. Saya datang ke rumah itu untuk menjenguk si bayi lantaran sejak selamanan saya sudah mendengar tangisan bayi itu. Sempat saya bertanya dalam hati anak siapa itu, karena di sekitar rumah saya tak ada perempuan yang sedang hamil. Makanya begitu pagi menjelang saya langsung bertanya pada ibu saya, dan menurut ibu bayi itu anak saudara tetangga kami dan baru dilahirkan kemarin. Makanya ibu mengajak saya menengoknya.
Sambil membacakan doa untuk bayi dan ibunya, mata saya tak lepas dari sosok Nadia. Perempuan muda hitam manis dan berambut panjang diekor kuda itu begitu lekat di benak saya lantaran raut wajahnya masih menunjukkan kemudaan usia, sebetulnya ia cantik, alisnya tebal dan giginya putih bersih. Hidungnya juga bangir tapi kain batik lusuh dan kaos oblong yang ia kenakan membuat ia terlihat lebih tua . Sambil sesekali meringis menahan sakit, Nadia mengunyah dengan mata menerawang sambil memangku piringnya yang masih terisi setengah. Entah apa yang ia pikirkan, yang jelas ia terlihat tak fokus menjawab salam saya.
Melihat hal ini, insting pekerjaaan saya timbul, sambil tetap mengawasi anak saya yang sedang aktif-aktifnya, saya menyerap cerita tetangga saya yaitu si bibi. Kata bibi, Nadia bukanlah saudara langsungnya. Nadia hanya keponakan dari menantu si bibi. Orangtua Nadia berasal dari Makasar namun Nadia dibesarkan di ibukota Jakarta. Saat saya bertanya berapa usia Nadia ternyata ia baru saja kelas 2 SMA, yah sekira 17 tahun lah.
Lalu mengana Nadia bisa sampai ke kampung kami, bibi mengatakan itu lantaran orangtua Nadia malu anaknya hamil. Tak jelas betul apakah Nadia sudah menikah secara resmi dengan ayah si bayi yang katanya tinggal tak jauh dari rumah Nadia di Jakarta, yang jelas Nadia datang ke kampung kami atas perintah orangtua untuk melahirkan, dan  kemudian pulang ke Jakarta seolah tak pernah berbadan dua dan melahirkan seorang anak. Masih dari cerita si bibi, bayi lelaki Nadia sebentar lagi akan berpisah dengan ibunya lantaran sudah ada orang yang berminat untuk mengadopsinya. Saya sempat dibisiki ibu saya, bayi Nadia bahkan sudah ditawarkan oleh orangtua Nadia kepada yang mau mengadopsi sejak Nadia mengandung 7 bulan.
“Saya sebetulnya sudah berusaha meminta orangtua Nadia agar membiarkan anak Nadia tetap bersama ibunya. Tapi orangtuanya keras dan tak mau mengakui bayi itu sebagai cucunya,” kata si bibi dengan wajah prihatin.
“Kenapa tak diberikan ke keluarga ayah si bayi bi,” kata saya mengusulkan opsi yang menurut saya paling baik lantaran itu membuat si bayi yang sampai saat ini belum bernama itu supaya tetap dekat dengan ayah kandungnya atau orang yang sedarah. Kata bibi, sebetulnya ayah si bayi dan keluarganya pernah menanyakan kemana perginya Nadia, dan dijawab oleh orangtuanya Nadia pergi ke Makasar sambil meminta agar ayah si bayi tak menemui Nadia lagi. Tak cukup disitu, handphone Nadia pun disita oleh orangtuanya agar gadis muda itu tak berhubungan lagi dengan kekasihnya. Hal itu, menurut bibi dilakukan lantaran Nadia kabarnya sebelum hamil kerap melawan orangtuanya dan tak melaksanakan apa yang diperintahkan dan akhirnya hamil walau masih berstatus pelajar. Oleh karena itu, orangtua Nadia bersikukuh akan tetap memberikan bayi Nadia pada orang yang mau mengadopsi walaupun kabarnya orangtua Nadia adalah orang berpendidikan dan mampu secara materi.
Mendengar kisah Nadia, tenggorokan saya tercekat. Bagaimana tidak, seorang ibu yang baru satu hari melahirkan anaknya dengan bertaruh nyawa sebentar lagi akan berpisah dengan buah hatinya itu. Saya seorang ibu, dan saya pernah melahirkan, makanya saya tahu tak ada seorang ibupun yang bisa berpisah dengan anaknya. Apalagi siang itu saya melihat Nadia (walaupun mungkin dulu adalah ABG yang kelakuannya tak terpuji atau di kaskus.us kerap disapa dengan sebutan ababil alias ABG labil karena melawan orangtua) tiba-tiba sudah bermertamorfosis menjadi ibu. Ia dengan telaten membereskan 12 buah popok milik bayinya yang bisa jadi menjadi selusin-selusinnya popok yang ia miliki. Dari sinar matanya pun, saya tahu ia menyayangi anaknya sepenuh hati walau badannya masih remuk redam setelah melahirkan. Sekadar informasi, saat saya jenguk Nadia sepertinya belum sehat betul karena setelah melahirkan Nadia hanya dirawat selama dua jam di klinik milik seorang bidan di kampung kami lantaran terbatasnya biaya. 
Sambil berjalan pulang dan menggendong anak saya, saya dan ibu saya tak kuasa menahan tangis yang kami tahan sejak berada di rumah bibik. Dengan perasaan berat kami melangkah pulang sambil terus mengelap mata kami yang berair. Di rumah ibu saya berkata, tak seharusnya Nadia berpisah dari anaknya. Walaupun sebejat apapun anak tak berhak ia menanggung nasib seperti Nadia karena bagaimanapun lanjut ibu saya hal itu terjadi lantaran kesalahan orangtuanya juga yang tak mendidik anak sehingga anak terjerumus pada perbuatan dosa. Sambil mengucap istigfar berulang kali, ibu saya berkata belum tentu Nadia akan kembali menjadi anak yang baik bila bayinya dipisahkan dari dia. Bisa jadi Nadia malah tertekan dan masuk lebih dalam ke perbuatan dosa.
“Bagaimanapun bayi kecil itu tak berdosa, ia lahir di dunia karena Allah SWT punya rencana. Kita saja yang tak tahu rencana itu. Makanya daripada dipisahkan dengan ibunya, biarkanlah diurus saja. Siapa tahu anak itulah yang kelak akan membalikkan sifat ibunya yang kurang baik menjadi baik, karena bagaimanapun saat menjadi ibu naluri keibuaan itu akan muncul. Kalau bicara malu pasti semua orangtua malu punya anak hamil duluan, toh bukan orangtua saja yang malu, anak yang melakukan itu pasti juga malu. Tapi sangat tak baik, bila dosa itu akan diperpanjang dengan memisahkan seorang ibu dengan darah dagingnya. Biarlah yang sudah berlalu ya berlalu, tinggal di masa depan jangan lagi diulangi kesalahan itu,” kata ibu saya.
Mendengar itu saya Cuma bisa mengamini, saya tak bisa bicara, lidah saya kelu membayangkan wajah Nadia dan bayinya. Saya merasa dengan kondisi yang dialami Nadia, saya adalah perempuan yang sangat beruntung memiliki keluarga yang kompak mendukung saya dan kehamilan saya, baik saat saya mengandung anak pertama, maupun saat ini ketika saya mengandung anak kedua saya yang baru menginjak bulan keempat. Saya punya ibu yang dengan ikhlas saya titipi anak pertama saya, membuatkan makanan kesukaaan saya saat saya mengalami muntah-muntah hebat di awal kehamilan. saya juga punya bapak yang baik karena dengan cekatan menolong saya menggendong dan menina bobokan anak saya dengan lantunan suling Sunda bila jagoan saya rewel menjelang tidur. Saya juga punya suami hebat yang selalu mengingatkan untuk minum vitamin, mengingatkan jadwal periksa atau mengingatkan agar saya tak terlalu capai saat bekerja dan tak mengeluh kalau pulang kerja saya titip makanan lantaran tak berselera dengan makanan yang ada di rumah. Atau dengan telaten menunggui saya melahirkan walaupun mungkin sebetulnya ia takut darah, bahkan membantu memakai korset beberapa saat setelah saya melahirkan sekaligus mengawal saya sampai ke kamar mandi hanya karena ia khawatir saya pingsan di kamar mandi usai melahirkan.
Saya makin merasa beruntung lantaran saya dan suami walaupun tak berlebih, dianugrahi rejeki yang cukup untuk membiayai kehamilan dan kelahiran saya. Saya bisa kontrol kehamilan sebulan sekali, melihat polah bayi saya melalui USG, dan sesekali memanjakan diri dengan luluran atau santai membaca buku yang saya sukai. Saya bahkan bisa mengakses internet untuk mencari informasi seputar kehamilan dan pengasuhan anak. Bagi Nadia, hal-hal yang saya rasakan itu mungkin saya sebatas impian saja karena sebentar lagi Nadia harus kembali ke Jakarta dan berusaha melupakan wajah anaknya yang saya yakin adalah hal yang mustahil. Entah apa yang ada di fikiran orangtuanya, tetapi bagi saya Nadia hanya korban. Ia hanya anak kecil yang tersesat lantaran orangtuanya mungkin tak memberikan ia rambu-rambu untuk menjalani lika-liku jalan kehidupan yang salah satunya bisa didapat dengan agama. Oleh karena itu, saya berharap, kisah Nadia yang saya tuturkan bisa menjadi pelajaran bagi semua orang. Bagi adik-adik yang seusia Nadia, berfikirlah jutaan kali sebelum melakukan hubungan suami istri sebelum menikah, jangan sampai ada bayi mungil yang tak berdosa yang menjadi korban dan tak bisa mengenal ayah dan bundanya atau mendapatkan kehangatan orangtua hanya karena berada dalam kondisi seperti Nadia. Untuk orangtua, saya berharap kisah ini mengilhami agar kita membesarkan anak dengan cara memberikan teladan lantaran itu bermakna lebih kuat daripada hanya sekadar melarang tanpa memberikan alasan sebagaimana rentetan puisi karya Dorothy Law Nolte yang saya kutip dari internet.
Anak-Anak Belajar Dari Lingkungan Hidupnya
Jika anak biasa hidup dicacat dan dicela,
kelak ia akan terbiasa menyalahkan orang lain.
Jika anak terbiasa hidup dalam permusuhan,
kelak ia akan terbiasa menentang dan melawan.

Jika anak biasa hidup dicekam ketakutan,
kelak ia akan terbiasa merasa resah dan cemas.
Jika anak biasa hidup dikasihani,
kelak ia akan terbiasa meratapi nasibnya sendiri.
Jika anak biasa hidup diolok-olok,
kelak ia akan terbiasa menjadi pemalu.
Jika anak biasa hidup dikelilingi perasaan iri,
kelak ia akan terbiasa merasa bersalah.
Jika anak biasa hidup serba dimengerti dan dipahami,
kelak ia akan terbiasa menjadi penyabar.
Jika anak biasa hidup diberi semangat dan dorongan,
kelak ia akan terbiasa percaya diri.
Jika anak biasa hidup banyak dipuji,
kelak ia akan terbiasa menghargai.
Jika anak biasa hidup tanpa banyak dipersalahkan,
kelak ia akan terbiasa senang menjadi dirinya sendiri.
Jika anak biasa hidup mendapatkan pengakuan dari kiri kanan,
kelak ia akan terbiasa menetapkan sasaran langkahnya.
Jika anak biasa hidup jujur,
kelak ia akan terbiasa memilih kebenaran.
Jika anak biasa hidup diperlakukan adil,
kelak ia akan terbiasa dengan keadilan.
Jika anak biasa hidup mengenyam rasa aman,
kelak ia akan terbiasa percaya diri dan mempercayai orang-orang di sekitarnya.
Jika anak biasa hidup di tengah keramahtamahan,
kelak ia akan terbiasa berpendirian : “Sungguh indah dunia ini !”

(Dorothy Law Nolte)
Anak-anak Belajar Dari Apa Yang Mereka Alami
Bila anak hidup dengan kritikan,
Ia belajar untuk mengutuk.
Bila anak hidup dengan permusuhan,
Ia belajar untuk melawan.
Bila anak hidup dengan ejekan,
Ia belajar menjadi pemalu.
Bila anak hidup dengan rasa malu,
Ia belajar untuk merasa bersalah.

Bila anak hidup dengan toleransi,
Ia belajar menjadi sabar.
Bila anak hidup dengan penuh dukungan,
Ia belajar untuk percaya diri.
Bila anak hidup dengan keadilan,
Ia belajar menjadi adil.
Bila anak hidup dengan rasa aman,
Ia belajar untuk mempunyai keyakinan.
Bila anak hidup dengan pengakuan,
Ia belajar untuk menyukai dirinya.
Bila anak hidup dengan kejujuran,
Ia belajar kebenaran.
Bila anak hidup dengan penerimaan dan persahabatan,
Ia belajar menemukan rasa kasih sayang di dunia.

(Terjemahan dari Dorothy Law Nolte, 1982)

Anak Belajar Dari Perlakuan yang Dialaminya
Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki.
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan,ia belajar berkelahi.
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri.

Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, ia belajar menyesali diri.

Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri.
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri.
Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan, ia belajar keadilan.
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan,
ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.
(Dorothy Law Nolte)



Jumat, 09 Maret 2012

Hamil Vs Cumi-Cumi

Ini catatan lama yang saya buat pada Rabu 1 Juli 2009, saat saya sedang hamil anak pertama

Siang ini, Rabu (1/7) sepulang liputan di Pengadilan Negeri (PN) Serang, saya bersama seorang kawan makan di sebuah warteg alias warung tegal di kawasan ciceri. cape sesudah liputan ditambah perut keroncongan karena jatah makanannya harus dibagi dua dengan janin usia 13 minggu yang sedang saya kandung membuat saya makan dengan lahap. Sekadar informasi menu makan siang saya kali ini adalah urap, sayur udang dan cumi masak kecap....hmmmm sedap.
Lagi enak-enaknya mengunyah makanan dengan konsentrasi penuh, tiba-tiba sebuah colekan membuyarkannya, colekan yang mendarat di perut saya itu ternyata dilayangkan oleh seorang ibu berjilbab yang sedang membeli makanan di warteg itu.
Sambil memperhatikan perut saya, ibu itu bertanya : "neng sedang hamil yah?"katanya dengan mata membelalak.
saya dengan spontan dan mulut masih dipenuhi nasi serta cumi masak kecap menjawab : "iya bu, memangnya ada apa?"
Lalu ibu itu dengan enaknya nyerocos kalau orang hamil itu dilarang keras makan cumi-cumi.
"Kalau saya sih pantangan makan cumi pas hamil,"tukasnya sambil bergidik.
jawaban serta bahasa tubuhnya (bergidik gitu loch) membuat saya bertanya-tanya di hati dan tak lama meluncur pertanyaan dari mulut saya "emangnya kenapa bu, orang hamil nggak boleh makan cumi?"
tapi bukannya mendapatkan jawaban yang valid and menyakinkan ibu itu cuma bilang "ih amit-amit moga-moga nggak kenapa-kenapa yah" katanya sambil ngeloyor pergi dan menggantungkan rasa penasaran saya yang setinggi tugu Monas.
Setelah sempat bertanya-tanya pada kawan semeja, menurut kepercayaan orang tua, orang hamil tak boleh makan cumi karena takut anak yang dilahirkan kelak berkulit hitam, mengingat cumi dilengkapi tinta hitam di tubuhnya, selain itu ada juga yang bilang kalau makan cumi ntar anaknya mirip cumi (ih amit-amit).
Merasa penjelasan orang-orang itu tak mumpuni, saya akhirnya browsing dan bertanya pada mang Google. Dari ribuan artikel yang saya baca, hal-hal seperti dilontarkan si ibu berjilbab yang suka bergidik di warteg itu lebih condong ke mitos, namun dari penjelasan logisnya yang artikelnya saya temukan di harian surya orang hamil hendaknya membatasi makan seafood (bukan hanya cumi) bila laut tempat diambilnya seafood diketahui tercemar. lagian kata artikel di surya itu, kalau makan seafood kebanyakan juga nggak bagus, bukan hanya bagi orang hamil soalnya kolesterolnya tinggi. masih di artikel yang sama dikatakan kalau ibu hamil yang makan seafood kelak anak yang dilahirkannya akan ber IQ tinggi (amin ya robbal alamin).
Tapi rupanya membaca artikel itu belum membuat saya tenang, akhirnya saya angkat telepon dan menelfon ibu saya dan alhamdullah jawaban ibu saya sama dengan keterangan di artikel di Surya.
Menilik dari pengalaman ini, saya jadi mikir tentunya banyak diantara ibu hamil yang menelan mentah-mentah mitos seperti mitos cumi-cumi. padahal, kalau dicermati dan ditanyakan ke ahlinya hal-hal itu sungguh tak beralasan. kebayang dong ibu hamil apalagi yang hamil muda untuk makan saja susah masih ditambah dengan mitos-mitos yang kesannya melarang ibu hamil makan ini itu. kalau sudah begitu bukannya bayi sehat yang didapat, bisa-bisa malah bayi kurang gizi yang dilahirkan. kalau sudah begini saya berpendapat, lebih baik anak kita berkulit hitam tapi cerdas daripada putih tapi bloon plus kurang gizi. kan Obama aja kulitnya hitam tapi jadi idol sedunia, lagian kalau bapak ibunya berkulit putih atau kuning langsat masa anaknya item lestreng..ya nggak mungkin lah. soo buat ibu hamil seantero dunia, lebih baik fokuskan diri pada kesehatan diri dan bayi. jangan terlalu banyak mendengarkan omongan dan mitos yang tak bisa dipertanggunjawabkan.cayoo gambate..